Skip to content

Instantly share code, notes, and snippets.

@yusuf601
Created March 10, 2026 05:08
Show Gist options
  • Select an option

  • Save yusuf601/d87006b27f14a8f2ae6b6100127ad36c to your computer and use it in GitHub Desktop.

Select an option

Save yusuf601/d87006b27f14a8f2ae6b6100127ad36c to your computer and use it in GitHub Desktop.

Saya paham keraguan Anda — dan sejujurnya, kalau saya jadi juri PKM-GFT, saya juga akan bertanya:

"Ini gagasan mahasiswa atau proposal naskah akademik RUU?"

Mari saya jujur diagnosa kenapa ini riskan untuk PKM, lalu kasih jalan keluar realistis.


Diagnosis: Kenapa Ini Riskan Tembus PKM

1. Scope Terlalu Vertikal (Nasional-Heavy)

PKM-GFT juara biasanya punya ciri:

  • Bottom-up: solusi yang bisa dimulai kampus/komunitas, baru naik ke nasional
  • Top-down (seperti GARUDA-COGNI sekarang): butuh Kemendikbud, Kemenkes, regulasi, infrastruktur nasional dari hari pertama

Contoh judul PKM-GFT lolos yang Anda pernah tunjukkan (dari memori saya):

  • Biasanya satu intervensi spesifik yang bisa diuji di 1-2 sekolah dalam 6 bulan
  • Bukan "ekosistem 5 pilar + 3 kementerian + federated learning + regulasi ASR"

2. Prototipe Sulit Ditunjukkan

Juri akan tanya: "Tunjukkan demo prototype-nya."

Apa yang bisa Anda tunjukkan di presentasi PIMNAS (10 menit)?

  • ❌ Federated learning (butuh ribuan device)
  • ❌ Integrasi SATUSEHAT (butuh akses API pemerintah)
  • ❌ AccessibilityService micro-friction (mudah diblokir Play Store saat development)
  • ✅ ...app sederhana yang deteksi scroll? (tapi ini tidak cukup "wow" untuk menang)

3. Terlalu Banyak "If" yang Di Luar Kendali Mahasiswa

  • "Kalau Google izinkan..."
  • "Kalau OEM whitelist..."
  • "Kalau Kemendikbud adopt..."
  • "Kalau UU disahkan..."

Juri PKM suka gagasan yang execution-nya bisa dimulai besok oleh tim mahasiswa, bukan yang bergantung pada decision-maker eksternal.


Jalan Keluar: Pivot Radikal ke "Kampus-Testable MVP"

Kalau Anda tetap ingin lomba PKM (bukan langsung ke Kemendikbud), saya sarankan turunkan scope drastis jadi "proof-of-concept terbatas":

Opsi A: Fokus Hanya ke 1 Pilar (Kurikulum + App Sederhana)

Judul baru:

"ATENSI-GUARD: Modul Literasi Dopamin Terintegrasi Aplikasi Self-Monitoring untuk Siswa SMP sebagai Prototipe Perlindungan Kesehatan Mental Digital Generasi 2045"

Apa yang dilakukan:

  1. Bikin modul kurikulum (PowerPoint + video 10 menit) yang bisa dipakai guru di 1 sekolah
  2. App Android sederhana (tanpa AccessibilityService — sekadar self-report + tracker sederhana)
  3. Uji di 2-3 kelas SMP (30-90 siswa) selama 3 bulan
  4. Ukur: Pre-test vs post-test awareness dopamin + self-reported screen time

Kenapa ini lebih kuat untuk PKM:

  • ✅ Bisa dikerjakan tim 5 mahasiswa dalam 6 bulan
  • ✅ Prototipe bisa didemo (modul + app)
  • ✅ Data empiris (hasil pre/post-test)
  • ✅ Tidak bergantung infrastruktur nasional
  • ✅ Tetap "futuristik" (tapi feasible)

Di BAB PREDIKSI DAMPAK, baru Anda tulis: "Jika model ini terbukti efektif, skalabilitas nasional dapat dilakukan via integrasi PMM dan kemitraan kementerian." ← Ini bagian visi, bukan eksekusi PKM.


Opsi B: Fokus ke Deteksi Saja (Riset Algoritmik)

Judul:

"Kinematic Heuristic Model untuk Deteksi Dini Pola Doomscrolling pada Remaja Berbasis IMU dan Touch Velocity tanpa Pelanggaran Privasi"

Apa yang dilakukan:

  1. Kumpulkan dataset dari 30-50 volunteer siswa (dengan consent)
  2. Rekam data IMU + touch selama 2 minggu (via app research)
  3. Latih model klasifikasi (LightGBM) untuk bedakan "scrolling normal" vs "kompulsif"
  4. Ukur akurasi (F1-score, precision, recall)

Kenapa ini kuat:

  • ✅ Pure riset ML/data science (sesuai keahlian IT/CS)
  • ✅ Outputnya paper + model yang bisa dipublikasi
  • ✅ Tidak butuh intervensi/kebijakan/regulasi
  • ✅ Prototipe = Jupyter notebook + dataset + trained model

Visi nasional ditulis sebagai "aplikasi potensial dari model ini" di bagian diskusi.


Opsi C: Ganti Format dari PKM-GFT ke PKM Riset Sosial Humaniora (RSH)

Kalau Anda tetap mau bahas sistem besar (5 pilar, regulasi, nasional), mungkin format yang salah.

PKM-GFT cocok untuk: teknologi/produk/inovasi yang bisa diprototipe.
PKM-RSH cocok untuk: analisis kebijakan, kajian sosial, proposal sistem.

Judul PKM-RSH:

"Urgensi Ekosistem Perlindungan Kesehatan Mental Digital Anak Indonesia: Analisis Kebutuhan Regulasi, Kurikulum, dan Teknologi Guardian dalam Menghadapi Ancaman AI Hiper-Persuasif Menuju 2045"

Isinya: Mirip yang Anda tulis sekarang (analisis masalah, komparasi global, usulan sistem) — tapi tidak butuh prototipe, cukup naskah kebijakan.


Rekomendasi Saya (Jujur)

Kalau target Anda menang PIMNAS PKM-GFT 2026, saya sarankan:

Pilih Opsi A (kurikulum + app sederhana + uji di 1-2 sekolah).

Kalau target Anda mempengaruhi kebijakan nasional (bukan sekadar juara lomba):

  • Lewati PKM, langsung kirim proposal ini ke:
    • Kemendikbudristek (Ditjen GTK atau Ditjen Pendis)
    • BRIN (program riset prioritas nasional)
    • Kompetisi inovasi pemerintah (misal: Anugerah Inovasi Indonesia)

Atau hybrid: bikin versi lite untuk PKM (Opsi A), sambil versi penuh dikirim ke Kemendikbud.


Pertanyaan balik ke Anda:
Apa tujuan utama Anda sebenarnya — juara PIMNAS (butuh pivot ke scope kecil) atau implementasi nasional (butuh jalur policy, bukan lomba mahasiswa)?

Sign up for free to join this conversation on GitHub. Already have an account? Sign in to comment