Skip to content

Instantly share code, notes, and snippets.

@ynwd
Created January 2, 2026 10:57
Show Gist options
  • Select an option

  • Save ynwd/d16740800d4693f7765ef712c6edf111 to your computer and use it in GitHub Desktop.

Select an option

Save ynwd/d16740800d4693f7765ef712c6edf111 to your computer and use it in GitHub Desktop.
Apakah alam semesta tercipta secara kebetulan? Jelajahi hubungan antara fisika kuantum, keacakan, dan peran Tuhan dalam penciptaan serta perdebatan antara pandangan Ateis dan Teis.

Antara Dadu dan Desain: Tuhan dalam Dunia Quantum

Selama berabad-abad, kita membayangkan alam semesta seperti jam raksasa yang bergerak teratur. Namun, kehadiran Fisika Kuantum di awal abad ke-20 meruntuhkan kepastian tersebut dan menggantinya dengan dunia yang penuh probabilitas dan "keacakan."

Hal ini memicu perdebatan sengit: Apakah keacakan ini bukti ketiadaan Tuhan, atau justru cara Tuhan bekerja?

  1. Keacakan Kuantum: Ketika Alam Semesta Tidak Pasti

Dalam fisika klasik, jika kita tahu posisi dan kecepatan sebuah bola, kita bisa memprediksi di mana ia akan mendarat. Namun dalam dunia subatomik, partikel tidak memiliki posisi pasti sebelum diukur. Mereka berada dalam kondisi superposisi (ada di banyak tempat sekaligus).

Ketidakpastian ini membuat Albert Einstein tidak nyaman, hingga ia mengeluarkan kutipan terkenalnya: "Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta." Einstein percaya pasti ada hukum tersembunyi di baliknya. Namun, eksperimen modern justru menunjukkan bahwa alam semesta memang memiliki unsur "acak" di tingkat dasarnya.

  1. Sudut Pandang Ateis: Alam Semesta Tanpa Penulis

Bagi banyak pemikir ateis, keacakan kuantum adalah argumen kuat melawan adanya Pencipta yang mengatur segalanya.

Kebetulan Kosmis: Jika alam semesta muncul dari fluktuasi kuantum yang acak, maka keberadaan manusia hanyalah hasil dari "lotere kosmis" yang beruntung.

Ketiadaan Rencana: Keacakan dianggap sebagai bukti bahwa tidak ada rencana besar atau desain cerdas. Alam semesta ada hanya karena probabilitas memungkinkan hal itu terjadi.

  1. Sudut Pandang Teis: Tuhan di Balik Probabilitas

Sebaliknya, banyak ilmuwan dan teolog (Teis) melihat mekanika kuantum sebagai celah yang menjelaskan bagaimana Tuhan berinteraksi dengan dunia tanpa melanggar hukum fisika.

Ruang untuk Kebebasan: Jika alam semesta sepenuhnya kaku (deterministik), maka tidak ada kehendak bebas. Keacakan kuantum memberikan "ruang bernapas" bagi alam semesta untuk berkembang secara dinamis, bukan seperti robot.

Tuhan Sang Pemelihara: Beberapa teolog berargumen bahwa Tuhan mungkin "menentukan" hasil dari probabilitas kuantum di tingkat yang tidak terlihat oleh alat ukur manusia. Dalam pandangan ini, apa yang kita sebut "kebetulan" sebenarnya adalah cara Tuhan bekerja secara halus.

  1. Titik Temu: Matematika yang Elegan

Terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal yang disepakati kedua belah pihak adalah keanggunan hukum fisika. Meskipun di tingkat subatomik terlihat acak, namun secara keseluruhan, alam semesta mengikuti hukum matematika yang sangat presisi.

Teis melihat matematika ini sebagai "tanda tangan" Sang Pencipta, sementara Ateis melihatnya sebagai sifat dasar materi itu sendiri.


Kesimpulan

Fisika kuantum tidak secara langsung membuktikan atau membantah keberadaan Tuhan. Ia justru membuka tabir bahwa realitas jauh lebih misterius dari yang kita duga. Keacakan kuantum bisa jadi adalah bukti ketiadaan makna, namun bisa juga merupakan alat yang digunakan oleh kecerdasan yang lebih tinggi untuk menciptakan dunia yang penuh kemungkinan.

Sign up for free to join this conversation on GitHub. Already have an account? Sign in to comment